Author - admin

Revolusi Kedai Kopi dan Budaya Antisosial yang Terkoneksi dengan Dunia

Dewasa ini, keberadaan kedai kopi, café, coffee shop maupun sejenisnya perlahan namun pasti telah menjadi “kantor” bagi banyak orang, khususnya mereka yang mengandalkan teknologi informasi berbasis internet. Sebut saja aktivitas ngeblog, jual beli secara online dan mengerjakan proyek-proyek kreatif seperti desain, menulis artikel dan lain-lain. Jika Anda pernah mendengar istilah “ngantor tak harus di kantor”, maka itulah salah satu bentuk revolusi kedai kopi abad ini. (more…)

Menjelajahi Kopi Sidikalang (Bag. 3)

Di kalangan petani kopi Sidikalang, Dairi, kopi jenis arabika disebut juga sebagai kopi ateng atau kopi “si garar utang”(si bayar utang). Pemberian nama ini dapat dikatakan merupakan cerminan kebiasaan petani kopi yang menunggu hasil kopi atengnya untuk membayar utang.

Memang, kopi arabika lebih cepat berbuah setelah ditanam, cukup hanya memakan waktu sekitar 2,5 tahun. Setelah itu mulailah memetik hasilnya untuk waktu yang tidak singkat, yang buahnya bisa dipetik secara rutin, yaitu sekali dalam dua minggu.

Proses penjualannya pun tergolong mudah. Setelah bijinya memerah alias menua dan sudah dapat dipetik, kulit kopi kemudian dibuang dengan menggunakan mesin pemintal. Setelah itu dijemur cukup dalam sehari, lantas dijual dan jadi uang. Hanya saja, pun demikian penanaman kopi arabika juga harus menggunakan pupuk dan pestisida mengingat jenis tanaman ini tergolong rentan dengan hama tanaman yang sewaktu-waktu datang menyerang.

Pupuk yang digunakan—kompos —yang dibeli Rp 3.000 per karung atau urea, menentukan kualitas buahnya kelak. Hal itu khususnya terlihat dari volume dan besar kecilnya biji kopi. Sebab kedua hal ini akan berperan penting ketika biji kopi akan dijual nantinya.

Sangat jauh berbeda dengan robusta. Kopi jenis ini terlebih dahulu dikeringkan dalam waktu yang cukup lama setelah dipetik dari pohonnya dan dibuang kulitnya. Hingga warnanya menghitam dan dapat digongseng, digiling hingga halus lalu dikemas dan dijual di pasaran.

Peralihan petani yang lebih dominan menanam kopi arabika ketimbang robusta memang terlihat drastis meningkat hingga sebagian petani menebangi pohon robustanya untuk diganti dengan pohon arabika. Hal inilah yang juga dilakukan Safaruddin Marbun (31) petani di Desa Bintang, Kecamatan Sidikalang pada lahannya seluas 4 rantai sebanyak 500 batang arabika.

“Semula kebun ini ditanami robusta semua. Tapi sejak setahun terakhir saya sudah menggantinya dengan arabika karena pasti lebih diuntungkan. Lagipula, proses penjualannya cepat tidak sepeti robusta yang menunggu waktu cukup lama dulu baru bisa dijual,” katanya. Ia akan memetik buahnya selama setahun lagi.

Lain halnya dengan Gimhot Marbun (49). Meski sejak tiga tahun terakhir sudah menanam lahannya dengan kopi jenis arabika, tapi ia tidak pernah berniat menebang dan mengganti pohon kopi robusta miliknya walau hanya sedikit.

“Memang harga kopi arabika kini lebih tinggi dibandingkan dengan robusta tapi saya justru melihat bahwa kualitas robusta jauh lebih baik. Karena itu saya yakin ke depan harga robusta akan kembali naik,” katanya sambil mengenang kejayaan petani Dairi dulu.

Kini kopi arabika di pasar internasional dijual seharga 3,2 dollar AS per kilogram, sementara kopi robusta 1,5 dollar AS—hampir separuhnya. Meski demikian, petani seperti Ibu Hutagalung boru Purba (41) pun tak mau tergiur dengan harga itu. Di antara lahan kebunya yang ditumbuhi robusta yang usianya sudah puluhan tahun juga ditanami pohon kopi jebis arabika, meski jumlahnya tak sebanding dengan robusta.

“Memang, saya menanam arabika juga, tapi saya masih tetap mempertahankan robusta karena robustalah yang menghidupi keluarga kami sejak turun temurun dari orang tua sampai sekarang,” ujarnya.

Boru Purba mengaku, hingga kini masih tetap mengandalakan robusta dan memasarkannya langsung kepada pengusaha pengemasan bubuk kopi, seperti Aritonang (Kopi IDA). Dan dalam sebulan, ia masih mampu menjual sekitar 25 -30 kilogram dari kebunnya yang seluas 1 hektar.

Arabika memang telah menjamur, tapi ikon Kopi Sidikalang berasal dari robusta. Akankah ikon itu akan hilang? Antara ya dan tidak. Setidaknya Safaruddin, Gimhot dan Boru Purba mampu memberikan jawaban tentang persoalan itu. *

Menjelajahi Kopi Sidikalang (Bag. 2)

Menurunnya jumlah produksi kopi robusta ini menurut beberapa pedagang kopi kemasan mulai membuat petani kopi Sidikalang cemas.

Pasalnya, bahan baku yang mereka gunakan adalah jenis robusta. Tak boleh tidak, sebab itu sudah menjadi cita rasa khas daerah yang barangkali, cita rasa itu juga sudah melekat di lidah para konsumennya. Salah satunya adalah S B Aritonang (50), pengusaha “home industri” kopi Sidikalang dengan merk dagang “IDA” yang sudah memulai usahanya sejak puluhan tahun—sejak tahun 1970-an.

Menurut Aritonang, sungguh wajar jika petani kopi beralih ke jenis arabika dengan latar belakang faktor ekonomi. Tetapi, setidaknya seharusnya ada upaya lain yang menjamin agar kopi jenis robusta tidak hilang dari peredaran dengan cara membudidayakannya kembali.

Demikian halnya dengan pengusaha lain seperti Ny Sabilah Rasyad Maha, yang juga pengusaha di bidang yang sama. Pengusaha kopi kemasan dengan merek “TANPAK” itu pun mengeluhkan robusta yang kini nyaris hilang. “Bahkan kami sedang megupayakan bagaimana agar robusta dibudidayakan agar nantinya masih tetap bertahan dan mampu mempertahakan citra kopi Sidakalang (Dairi) yang hingga kini sudah dikenal luas,” katanya.

Hanya saja, usaha itu pun tidak segampang yang dipikirkan. Kedua pengusaha itu sendiri tidak memiliki lahan sendiri untuk pembudidayaanya. Sebaliknya, mereka hanya berharap dari animo para petani sendiri. “Itulah kelemahan kami,” ujar Aritonang dan Ny Rasyad—secara terpisah. Lantas, bagaimana jika robusta menjadi barang langka bahkan tidak ada lagi? Apakah Kopi Sidikalang (Dairi) yang namanya sudah dikenal itu juga akan ikut hilang?

Memang pernah terpikir oleh Aritonang untuk tidak berpangku pada robusta saja, tetapi mulai mengupayakan bagaimana agar arabika juga ikut menjadi ikon kopi Sidikalang. Tapi yang terjadi adalah, lagi-lagi terkendala soal teknologi. Memproses arabika tidak semudah memproses robusta menjadi bubuk kopi dengan cita rasa memuaskan bagi konsumen.

Memang, menurut beberapa kalangan, kopi jenis arabika sebenarnya dapat dikemas dan diolah menjadi minuman berkualitas, tapi hingga kini masyarakat sendiri belum pernah terpikir untuk ke sana. Bahkan, juga disinyalir bahwa aneka kopi yang sudah dikemas menjadi kopi dalam ukuran “sachet” yang beredar di pasaran menggunakan bahan baku sejenis kopi arabika, yang tentu saja sudah melalui tahap proses pengolahan yang menggunakan teknologi khusus.

Dikatakan juga bahwa sebenarnya kopi jenis arabika memiliki cita rasa yang nikmat dan tak kalah dengan robusta jika mampu dikelola dengan baik. Nah, masalahya adalah ketidakmampuan masyarakat setempat untuk mengelolanya sedemikian rupa.

“Saya pernah mengolah kopi jenis arabika dan mengemasnya menjadi bubuk, tapi yang terjadi adalah kemasan itu tidak laku di pasaran karena rasanya memang sangat jauh berbeda dengan robusta. Aromanya nyaris tidak terasa samasekali seperti yang dimiliki robusta. Pelanggan tetap memilih robusta, sedang arabika akhirnya saya hentikan pengolahannya karena tidak laku,” kenang Aritonang.

Di sisi lain hal itu tidak begitu berpengaruh bagi sebagian kalangan pengusaha dalam skala besar atau agen pengumpul kopi di Dairi, seperti Ny Malau boru Nababan (43) misalnya. “Kami sendiri sebagai pengusaha tidak bisa melarang petani agar mereka menanam kopi robusta, meskipun harganya kini sudah mulai stabil di pasaran,” katanya. “Pasalnya, petani lebih memikirkan sisi keuntungan,” jelasnya.

Ny Malau sendiri, agen pengumpul yang sudah lama menekuni bidangnya itu misalnya, jika dikalkulasikan jumlah volume perbandingan antara kopi jenis robusta dengan arabika yang dipasoknya dalam waktu terakhir, lebih dominan memasok kopi jenis arabika ke luar daerah dibandingkan dengan robusta. Anehnya, ia sendiri tidak tahu untuk apa kopi arabika dipergunakan. “Kami hanya menjualnya saja kepada ekportir ,” katanya.

Hal ini juga merupakan suatu kebutaan di kalangan petani dan pengusaha kopi Dairi, bahwa kenyataanya para petani menanam kopi jenis arabika lalu menjualnya kepada para ekportir tanpa mengetahui lebih jelas manfaat tanaman itu. “Saya sendiri juga tidak tahu pasti untuk apa kopi jenis arabika dimanfaatkan,” ujar Kadis Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Dairi, Aresensius Marbun. “Tapi yang jelas produksinya yang kian waktu kian meningkat, mengindikasikan bahwa kopi jenis arabika memang potensial di luar negeri,” tambahnya.

Ada anggapan lain berpendapat, kopi arabika dapat dijadikan minuman hanya jika mampu diolah dengan menggunakan teknologi pengolahan khusus dengan cara mengambil zat kafein yang ada didalamnya kemudian mengemasanya kembali menjadi aneka minuman sejenis minuman pemulih stamina. Tapi, “soal itu pun belum dapat dipastikan,” jelas Arsensius. (bag. 3)

Menjelajahi Kopi Sidikalang (Bag. 1)

Dalam kancah perkopian nasional bahkan internasional, predikat Kopi Sidikalang pernah mencapai masa keemasan. Tak heran pula bahwa kenikmatan kopi robusta itu bahkan pernah secara ekonomis mengangkat harkat masyarakat Dairi sendiri. Tapi, kini kopi robusta nyaris tenggelam akibat gelombang pasar yang tidak menjamin lagi. Akibatnya, petani beralih ke tanaman kopi jenis arabika yang lebih mengutungkan, tapi kualitas beda. (more…)

Cerita Kopi dari Masa Lalu

Bila ditanya kapan saya mulai menyukai kopi, tentu saya tidak dapat mengatakannya sejak kecil. Sebab, minum kopi bukanlah budaya yang melekat kental dalam keluarga saya. Keluarga kami ialah peminum teh. Sejak kecil saya sudah terbiasa minum teh.

Hingga saya dewasa, saya masih termasuk golongan peminum teh. Tidak sempurna rasanya menikmati dunia tanpa minum teh, terutama di pagi hari selepas sarapan. Setidaknya secangkir atau dua cangkir teh manis kuseruput sebelum pergi menjalani aktivitas. Tidak jarang, minum teh juga sering saya lakukan pada sore hari. Biasanya bila lelah beraktifitas.

Sejak kecil, orangtua selalu menanamkan istilah, biasakan minum teh kalau capek supaya tidak sakit kuning. Saya tidak paham apa hubungannya dengan sakit kuning, tapi saya melakukannya dan menikmati hari-hari dengan teh. Sampai sekarang saya masih minum teh dan pengalaman dengan teh rasanya bakal tidak akan lepas selama-lamanya.

Ngopi?

Saya ialah orang Batak dan leluhur saya berasal dari Tapanuli. Sehingga sebuah kebohongan pula bila saya mengatakan orang Batak tidak terbiasa minum kopi. Ya, di kalangan tertentu, kebiasaan minum kopi di pagi hari memang terbilang berat. Di kampung kami, Balige, Kabupaten Toba Samosir, hanya orang tua yang biasa minum kopi di warung pada pagi hari ditemani mie gomak, lappet, maupun panganan kecil.

Tidak pula kami memiliki tradisi menyeduh kopi seperti di Aceh atau di Jogjakarta. Kami hanya mengenal istilah kopi tubruk. Semakin banyak kopinya semakin mantap rasanya. Dan asal tahu saja, di kampung kami tidak ada istilah kopi tanpa gula. Bukan kopi namanya bila tanpa gula. Salahkah mereka bila dikaitkan dengan specialty coffee yang konon katanya harus diminum tanpa gula? Saya tidak mau berspekulasi, karena saya bukan Q-Grader, barista atau coffee expert dengan istilah lain.

Namun yang saya tahu, di Tobasa, masyarakatnya kebanyakan minum kopi yang berasal dari Tampahan, sebuah desa kecil di dataran tinggi pada tepi Danau Toba. Atau dari Dolok Sanggul.

Kenapa saya tahu itu? Almarhum oppung boru (nenek dari ibu) saya, semasa hidupnya berdagang kain dari pekan ke pekan, termasuk di Siborong-borong, Sipahutar, Pangaribuan dan Dolok Sanggul. Oppung saya itu tidak juga begitu suka kopi, tapi ia selalu membeli kopi dari Dolok Sanggul. Katanya, kopi dari sana yang paling enak. Enak aromanya. Enak pula rasanya. Belakangan pun saya tahu, kalau kopi Dolok Sanggul berasal dari beberapa desa, termasuk dari Lintong Nihuta, yang kini terkenal dengan Kopi Lintong.

Cerita tentang keharuman kopi dari Tapanuli sudah sering saya dengar, tidak hanya dari oppung saya. Belakangan, sekitar sepuluh tahun lalu, Humbang Hasundutan memisahkan diri dari Tapanuli Utara, nama Desa Lintong Ni Huta, mulai mengemuka. Pemekaran daerah tampaknya memberikan angin segar kepada komoditas lokal. Perhatian akan hasil bumi untuk satu daerah yang baru dimekarkan ditunjukkan seiring cita-cita pemerintah daerahnya untuk memperkenalkan daerahnya ke luar.

Tapi sayang, keharuman kopi dari Lintong tidak serta merta dirasakan petani. Komoditas tidak akan pernah lepas dari mata rantai dagang yang melibatkan agen, yang mengubungkan petani dengan pedagang. Agen membeli dari petani, pedangan menjual ke pasar. Selain ke pasar negeri, juga ke pasar luar negeri, yang konon justru lebih besar. Tapi, hanya segelintir petani yang bisa kaya dari kopi.

Ironisnya lagi, mata rantai ini rupanya tidak pula serta merta diikuti satu budaya kopi yang seimbang. Selama bertahun-tahun petani hanya tahu menanam dengan orientasi uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Budaya kopi ialah nomor sekian. Saya masih heran, kenapa dari dulu petani hanya tahu buat kopi ditubruk. Mengapa pula selalu ada anggapan bahwa minum kopi harus dengan gula? Lalu, yang paling parah, kopi arabika yang mereka tanam itu, katanya tidak layak diminum tanpa untuk bahan baku cat, dan lain-lain. Konon, doktrin ini sengaja dipelihara untuk membuat petani tetap bertahan dalam ketidaktahuannya. Mereka dipelihara agar hanya tahu menanam.

Ada pihak yang merasa cemas, jika petani mengetahui lebih jauh tentang kopi, maka mata rantai tadi akan terganggu siklusnya. Bisa dibayangkan jika petani sudah mulai menguasai proses penanaman organik untuk menghasilkan specialty coffee, teknik roasting (menyangrai kopi) yang benar?

Tentu, ada sebab akibat untuk sebuah kenyataan. Kenyataan bisa diciptakan melalui doktrin. Dan, edukasi dapat meluruskan berbagai kenyataan yang tidak seharusnya terjadi. Rasanya terlambat memberikan edukasi yang benar tentang kopi kepada banyak orang, agar persepsi yang terkadang tidak masuk akal masih menghantui pola pikir kita tentang kopi.

Bisnis Kopi di Medan: Setelah Kafe, Apa Lagi?

Dewasa ini, perkembangan industri kopi tampak berkembang pesat di Kota Medan. Jumlah kafe maupun gerai kopi (coffee shop) bertambah drastis mengisi hampir tiap titik kota ini. Kalau dihitung, sedikitnya ada puluhan kafe baru berdiri. Dengan kata lain, bisnis kopi tampaknya kian menjanjikan.

Pertumbuhan industri kopi di hilir, memang tidak hanya terjadi di Medan. di beberapa kota di Indonesia juga kian digalakkan industri kopi di sektor hilir sebagai salah satu upaya meningkatkan konsumsi kopi dalam negeri (domestik). Asal tahu saja, sebenarnya, dari sebanyak 750.000 ton produksi kopi Indonesia pada tahun 2012, hanya 30% yang masih diserap untuk konsumsi lokal. Selebihnya, 70% diekspor ke sejumlah negara di belahan dunia.

“Yang terbesar sampai saat ini masih ke Amerika,” kata Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Irfan Anwar, dalam sebuah wawancara dengan media. Ada pun kenaikan konsumsi dalam negeri memang sudah mengalami kenaikan, meskipun belum sampai 1%. Padahal, pasar untuk dalam negeri sendiri masih sangat besar bila dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang pada tahun 2012 telah mencapai 230-an juta jiwa.

Artinya, potensi bisnis untuk pasar domestik masih sangat besar. Selain dengan cara memproduksi kopi instan dalam kemasan sachet, membuka kafe merupakan satu bisnis yang kian menjanjikan. peluang bisnis yang tidak kalah menjanjikan ialah membuka usaha home industri untuk memproduksi kopi biji maupun bubuk dalam kemasan.

Dayan Sutomo, misalnya, sudah melirik ini sejak beberapa tahun lalu. Produknya yang berhasil merebut pasar ialah kopi ginseng yang dipasarkan dengan cara multi level marketing (MLM) CNI. Tidak hanya berhasil di pasar lokal, produk yang sempat menguasai warung-warung kopi ini juga telah menembus pasar ekspor.

“Produk ini sudah dipasarkan hingga Amerika, Malaysia dan Hongkong,” ujar Dayan, pengusaha Medan yang aktif di organisasi dagang Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumut itu.

Menurut Dayan, sebenarnya, masih banyak peluang di industri hilir kopi yang berpotensi besar untuk dikembangkan. Mendirikan usaha kafe atau coffee shop memang sudah sangat awam. “Sudah begitu banyak kafe di Medan saat ini,” katanya.

Masih ada cara lain agar bisnis ini tidak seragam dilirik. Misalnya, untuk usaha kecil menengah dengan membuka gerai kopi kecil-kecilan di kampus yang modalnya mungkin jauh lebih kecil tapi segmen pasar yang lebih luas.

“Selama ini mungkin orang terpikir untuk membuka kafe di lokasi strategis agar ramai pengunjung. Tapi, untuk kalangan mahasiswa misalnya, sangat besar peluangnya. Bikin saja gerai kopi berjalan dengan kopi yang harganya terjangkau. Beruntung kita di Medan karena Sumatra merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia. Misalnya dari Sidikalang, Lintong Ni Huta maupun Aceh,” katanya.

Trik bisnis lainnya mungkin masih banyak yang belum dilakukan selain membuka kafe. Untuk yang memiliki modal lebih besar, misalnya, bisa membuka coffee shop untuk penjualan biji kopi yang sudah diroasting maupun bubuk. Pasarnya tentu tidak hanya terbuka untuk lokal, tapi juga domestik maupun luar negeri.

“Sebab, kopi Sumatra terbilang yang paling berkualitas di dunia antara biji kopi lain, selain dari Eithopia maupun Brazil. Biji kopi Sumatra masuk kategori premium dari sisi cita rasa,” terangnya. Artinya, cukup disayangkan bila komoditas ini tidak dimanfaatkan sebagai peluang bisnis.

Filosofi Kopi

Tulisan ini tidak ingin membicarakan kumpulan cerpen karya Dewi Lestari, Filosofi Kopi, meskipun masih berkaitan. Sengaja saya memberi judul tulisan ini Filosofi Kopi, karena saya ingin berbagi cerita tentang filosofi kopi yang baru saja terlintas di benak saya dan ingin menuliskannya segera sebelum saya lupa.

Kopi menjadi begitu nikmat ketika ia diperlakukan dengan cinta dan sepenuh jiwa. Ia tidak tumbuh di semua wilayah. Dari Ethiopia, daerah asal usulnya, kopi menyebar dan ditanam di lahan-lahan minimal 700 meter di atas permukaan laut. Sebaiknya berada pada wilayah lembab dengan curah hujan stabil. Pasalnya, curah hujan yang tinggi dapat mempengaruhi proses pembuahan ketika masih menjadi bunga. Bunga yang tercurah hujan tinggi kemungkinan besar tidak menjadi buah.

Artinya, pada proses penanaman pun kopi sudah harus dijaga dan diperlakukan dengan baik. Selain itu, ia harus terbebas dari hama, misalnya hama penggerek kopi yang belakangan begitu kuat mengganggu perkebunan para petani kopi.

Selesai dari proses penanaman, perlakuan kepada biji kopi berlanjut pada proses pengelupasan kulit dan penjemuran. Proses berikutnya ialah penyangraian, yang menurut sejumlah penelitian, menjadi salah satu proses penentu kualitas biji kopi untuk siap diseduh.

Teknologi penyangraian (roasting) ini menjadi pusat perhatian para penggiat industri kopi di dunia selama bertahun-tahun. Ternyata, proses sangrai itu memiliki pengaruh kuat terhadap fragrance (kualitas aroma bubuk kopi), aroma ketika diseduh dan cita rasa.

Setelah pada tahap roasting, ada banyak lagi hal teknis yang terus digali dalam proses penyeduhan maupun peracikan. Termasuk juga proses blending di antara biji kopi. Proses blending pun membutuhkan ketekunan tinggi untuk menemukan cita rasa yang diharapkan. Waktu yang tidak singkat dibutuhkan untuk eksperimen berulang-ulang dan jeli.

Karena itu pula Barista kian dihargai atas dedikasinya untuk kopi. Barista yang memahami dan mencintai kopi pastinya mampu meramu kopi terbaik melalui proses pengenalan karakter kopi yang tekun.

Jadi, jika Anda berada di cafe favorit Anda saat ini, wajarlah pula bila kemudian, secangkir kopi yang ada di hadapan itu dihargai lebih mahal dari secangkir kopi yang lain. Sebab, sebelum ia sampai di hadapan Anda, ia sudah melalui proses panjang melalui tangan-tangan dan pemikiran orang-orang yang berdedikasi di bidangnya.

Ketika Anda menyeruputnya dan kemudian menikmati cita rasanya, lalu Anda merasakan efek menyenangkan, itu artinya para orang berdedikasi tersebut sudah berhasil melaksanakan tugasnya. Sudah pula seorang barista telah bekerja dengan baik dan tidak selalu bergantung pada ketentuan coffee machine yang selalu berlaku otomatis.

Sebaliknya, jika pun cita rasa kopi yang Anda seruput belum tepat di lidah dan perasaan Anda saat ini, bukan pula berarti sumber biji kopinya berasal dari tanah yang buruk, tidak ditangani orang-orang berdedikasi dan tidak diracik barista handal.

Tapi, kopi yang Anda cecap bisa jadi belum saatnya ada di meja Anda saat ini karena waktu yang terlalu singkat, diproses dengan isntan dan tangan-tangan yang mengerjakannya belum mencintai kopi dengan sepenuh hati. Lalu, bisa jadi Anda menjadi “korban” ketidakberdedikasian itu. jadi maafkan saya. Anda pantas membayarnya lebih murah.

Lalu, yang ingin saya katakan ialah, jika Anda ingin membuka kafe untuk para setiap insan yang ingin menikmati “kebahagiaan” melalui kopi, pastikan kopi Anda berasal dari orang-orang berdedikasi dan diramu dengan cinta yang sepenuh hati. Karena kopi ialah cinta dalam bentuk lain. Percayalah…

Minum Kopi Pun Ada Caranya Biar Nikmat

Sebelum membaca tulisan ini sampai kalimat terakhir, saya berharap Anda tidak menaruh kesan bahwa kopi itu sangat kompleks, banyak rumus dan aturan, ini dan begitulah. Memang benar, kenikmatan secangkir kopi berasal dari tahapan proses yang panjang. Mulai dari budidayanya, pemetikan, proses pascapanen, sortase, roasting, cupping, seduh (brewing) dan cara meminum—yang akan menjadi topik utama tulisan ini. Ya, minum kopi pun ada caranya tersendiri, biar rasanya nikmat.

 

Lagi-lagi, ini bukan pendapat saya pribadi, melainkan berdasarkan obrolan seputar kopi dengan beberapa penikmat kopi, bahkan penggelut dunia kopi di Medan.

Lantas, apa saja tahapan yang harus dilakukan untuk meminum kopi agar mendapatkan kenikmatan karakter rasa pada kopi?

Yuk, kita simak perlahan-lahan sambil menyeruput kopi…

Setelah kopi siap diseduh dan disajikan di hadapan Anda, sebaiknya kenali dulu jenis seduhannya, apakah espresso, cappuccino, latte atau black coffee. Pada prinsipnya sebenarnya sama, hanya sedikit yang membedakan cara menikmatinya.

Sekarang, anggap saja Anda akan menyeruput espresso. Cara terbaik menikmat espresso ialah dengan tidak mencampurnya dengan gula. Nikmati aromanya dan seruput perlahan, lalu tahan sebentar dalam mulut Anda. Sehingga, lidah dan langit-langit mulut meresap cairan kopi. Pada saat itu, Anda dapat mengenali karakter pada kopi tersebut, biasanya dapat ditemukan karakter rasa (flavour) coklat yang pekat, sedikit asam (acidity), pahit dan manis (sweetness).

“Minum kopi sebaiknya jangan langsung ditelan, tapi tahan dulu di mulut untuk mengenali karakter rasa, tapi hanya beberapa detik saja, setelah itu baru telan,” kata Ruly, salah seorang penikmat kopi di Medan.

Selang beberapa detik, silakan telan dan rasakan cairan kopi melewati kerongkongan Anda. Sebaiknya memang, Anda ngopi sambil ditemani cemilan mengandung manis. Misalnya, roti srikaya, singkong/ubi, kue kering mengandung coklat dan sejenisnya, sehingga mampu memberikan keseimbangan rasa pada pengecapan Anda.

Tanpa Gula

Sudah menjadi kebiasaan pula meminum kopi dengan gula. dalam hal ini saya bicara tentang kopi arabika, bukan robusta yang dominan pahit dan minim acidity.

Orang selalu heran bila melihat saya menyeruput kopi (arabika) tanpa gula. “Masak minum kopi tak pakek gula, pahit kalilah.” Begitu sering komentar yang saya terima.

Orang pikir saya aneh, tidak takut jantung berdenyut, kena asam lambung atau pobia kopi lainnya. Padahal, saya hanya menikmati kopi apa adanya dan menyadari bahwa kopi memiliki karakter rasa yang kaya—sekali lagi, dalam hal ini, saya bicara tentang kopi Arabika, sebab, saya sendiri belum pernah benar-benar menikmati kopi Robusta tanpa gula atau susu kental manis maupun krimer.

Tidak banyak memang literatur yang mencatat sejarah orang-orang mulai menambahkan gula ke kopi sebelum diminum. Wikipedia mencatat, sejak pertama kali ditemukan di Ethiopia pada abad ke-13, kopi diminum tanpa gula. Bahkan di negara asal usulnya, ada ritual khusus minum kopi yang identik dengan ritual keagaamaan. Kebiasaan orang mulai menambahkan gula pada kopi dimulai pada tahun 1683 setelah Austria menaklukan Turki pada Pertempuran Vienna.

Ketika itu seorang staff militer bernama Jerzy Franciszek Kulczycki membuka sebuah coffeehouse di Vienna, Austria. Sejak itu, orang-orang mulai mencampurkan kopi dengan gula atau susu ke kopi. Di Vienna, ada tradisi minum kopi dengan menambahkan gula dan foam susu. Kopi yang diberi nama Melange ini merupakan ciri khas kopi di Vienna.

Jangan Sampai Dingin

Kembali ke cara minum espresso tadi. Ada baiknya minum espresso dihabiskan sebelum dingin. Konon, espresso yang sudah mendingin, harganya akan bertambah. Ups, sory, hehee… bukan, kata para pakarnya, espresso yang sudah mendingin telah mengalami penaikan acidity dan sehingga kadangkala tidak nyaman untuk lambung. Karena itu, you’d better slurp your espresso when it hot!

Tak hanya espresso, meminum kopi hitam, cappuccino, latte dan seduhan kopi lainnya, pun ada baiknya jangan sampai dingin baru diminum.

Jika cara sederhana ini sudah Anda lakukan, maka langkah yang tidak kalah penting Anda lakukan ialah, nikmatilah kopi Anda dengan aktivitas. Setidaknya, ajak kawan ngopi dan ngobrol-ngobrol. Atau, lakukan aktivitas kesenangan Anda, melukis, membaca, buka laptop dan menulis. Atau, bersantai di tepi pantai. Kalau Anda kategori pengopi serius, Anda dapat menikmati kopi dengan mengerjakan pekerjaan kantor yang menumpuk. Nikmatilah pekerjaan Anda sebagaimana Anda sebagaimana kopi Anda. – tonggo simangunsong

Dilema Sertifikasi Barista

Haruskah barista mengantongi sertifikasi? Pertanyaan ini tampaknya cukup penting bagi para barista dan pengelola kafe maupun kedai kopi belakangan ini. Masalahnya ialah, jika barista telah mengantongi sertifikasi profesi dimaksud, apakah semua pengelola kafe mampu membayar upah barista setidaknya memenuhi standard pengupahan yang berlaku?

Sepertinya ini sebuah dilema dalam dunia kebaristaan maupun industri hilir kopi dewasa ini. Apalagi belum ada survey yang menyatakan berapa persentase jumlah pengelola kafe yang masuk kategori berkembang ,maju dan sudah sangat maju, sehingga layak dikategorikan sudah mampu atau belum mampu mengupah barista sesuai standard yang berlaku.

Yang terjadi saat ini ialah, tidak sedikit pelaku industri kopi yang termasuk kategori pemula atau masuk dalam daftar usaha kecil menengah. Industri kopi saat ini memang ibarat gula yang sedang dikerubungi semut. Ketika bisnis ini sedang trend, tidak sedikit yang mencoba peruntungan di usaha ini, semisal membuka kafe atau kedai kopi. Belakangan, menyadari sudah punya wawasan mumpuni di bidang kopi, ada beberapa yang mulai mengembangkan usaha micro roasting di skala lokal. (more…)